Penyandang disabilitas adalah orang normal yang memiliki keterbatasan. Mereka sama dengan kita, sama-sama makan nasi, bernapas, dan juga butuh istirahat dan tidur, hanya saja mereka tidak dapat berpatisipasi pada kegiatan tertentu. Saat ini, daripada menyebutkan kata “penyandang cacat” atau “difabel”, pemerintah menghimbau masyarakat untuk menggunakan kata penyandang disabilitas. Ini dimaksudkan agar mereka tidak merasa terdiskriminasi dan dimaksudkan untuk mengangakat hambatan yang mereka miliki. Membuat mereka merasa mampu https://www.kompasiana.com/molzania1507/5beffe766ddcae715836ed24/berkarya-untuk-bangsa-harapan-baru-penyandang-disabilitas.

Beberapa hambatan yang dirasakan dan dialami penyandang disabilitas adalah infrastruktur, hambatan perilaku, lingkungan, serta hambatan pola pikir. Pola pikir adalah hal yang paling penting. Pola pikir masyarakat Indonesia tentang penyandang disabilitas yang masih buruk membuat penyandang disabilitas merasa kesusahan, sedih dan akhirnya mengganggu aktivitas mereka.

Untuk pada tuna grahita, mereka memiliki beberapa ciri dan akan kami jelaskan pada akhir artikel ini. Sebelum itu, apa yang dimaksud dengan tuna grahita? Tuna grahita adalah suatu kondisi dimana seseorang memiliki keterbelakangan mental atau kemampuan intelektual di bawah rata-rata. Mereka cenderung sulit untuk berkomunikasi, sulit belajar dan mengalami kesulitan untuk mengatasi suatu masalah. Tuna grahita harus mendapatkan dukungan dan bantuan yang cukup dari orang-orang di sekitar mereka. Ada banyak sekali sekolah, kegiatan dan juga bantuan yang disediakan untuk membantu anak-anak dengan tuna grahita. Ini tentu saja akan membantu mereka untuk lebih memahami kehidupan.

Sejak tahun 2010, penggunaan kata keterbelakangan mental sudah tidak digunakan. Mereka lebih memilih untuk memberi sebutan “disabilitas intelektual”. Penyebutan leternelakangan mental dinilai menyinggung dan kurang cocok.

Anak dengan tuna grahita memiliki beberapa ciri-ciri yang jelas, antara lain:

– Sulit berbicara atau mengungkapkan maksud mereka
– Sulit berpikir secara logis/masuk akal
– Mengalami kesulitan saat harus mengatasi masalah
– Tidak memahami aturan sosial
– Perkembangan mereka lebih lambat dari anak-anak seusianya

Apa yang menyebabkan seseorang menderita tuna grahita? Kondisi ini disebabkan karena otak Anda mengalami cedera, hal ini membuat otak Anda tidak dapat berkembang secara normal. Cedera ini dapat terjadi sejak di dalam kandungan, pada proses kelahiran, bahkan setelah bayi lahir.

Jika Anda mengalami hal tersebut, Anda dapat mengunjungi dokter. Nantinya dokter akan mediagnosis masalah disabilitas ntelektual ini dengan mengukur kemampuan anak Anda berpikir dan memecahkan masalah. Jika ada yang aneh atau tidak sesuai, dokter akan merekomendasikan perawatan dan cara penanganan khusus untuk anak Anda.

Jika anak Anda mengalami kondisi ini, Anda tetap dapat memberikan mereka yang terbaik. Carilah sekolah untuk anak berkebutuhan khusus. Pastikan Anda telah melakukan survey pada sekolah yang akan Anda pilih nantinya. Anda juga dapat mencari sekolah yang memiliki sarana pendidikan dengan menarapkan program belajar seperti di asrama. Ini dapat membantu anak Anda untuk berkembang dan belajar dengan lebih baik.

Anda juga perlu mengajarkan cara hidup mandiri pada anak-anak Anda. Biasakan mereka untuk naik angkutan umum, memasak, menyiapkan keperluan mereka, dan lain sebagainya. Ini wajib Anda ajarkan, agar mereka mampu bertahan dan melakukan kegiatan yang mereka perlu. Anda juga perlu mengajarkan anak Anda untuk merawat diri, bersosialisasi, ajarkan pula mereka untuk menghubungi nomor darurat saat mereka dalam keadaan genting.